Mimpi Bodoh Tuk Bulan

Pijaki semua di atas kuasa. Berdiri tanpa sadar kembali. Bagaimana semua itu berjalan selaras? Dimana tempatku berinjak kini ku lupa. Sungguh.
Tak pernah ingat lagi sgalanya hanya demi ini. Demi Tuhan-ku yang suci bersumpah di atas ini semua, aku lupa di mana dan bagaimana paras itu kini.
Semua tegap tanpa apapun lagi. Kini sendiri, semua sendiri. Semua gelap dan aku tenggelam. Semua terang dan aku hanya hanyut. Tak terlihat. Itu aku.
Apa perlu gemporkan dunia hanya untuk dipandang? Apa perlu teriak sia-sia itu hanya demi semua kembali? Apa perlu semua itu?
Jarak di antara dokumentasi pikiran selalu berjarak tanpa batas. Di sini, hanya selalu ada angan tanpa harap.
Angan tanpa harap? Bisakah dibayangkan?
Itu hanya mimpi sang bodoh yang menginginkan rembulan.
Ha. Memang aku terkadang bodoh. Apakah aku termasuk sang bodoh itu? Bodoh yang bermimpi akan kehadiran bulan?
Hanya diam. Hanya itu…